VISI SMP ISLAM AR RIDHO CITEUREUP

Visi Kami: Terbentuknya pribadi muslim yang berilmu pengetahuan, berketerampilan dan berakhlak mulia yang menjadikan ilmu sebagai landasan amal bagi kemaslahatan ummat dan bangsa

MOTO SMP ISLAM AR RIDHO CITEUREUP

Moto Kami: MELATIH DISIPLIN DAN MEMBUDAYAKAN AKHLAK MULIA

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 24 Mei 2011

20 Siswa Miskin Ar-Ridho, Tidakkah Butuh Dukungan?

BEBERAPA waktu lalu, Sekretaris BKM Tarikolot, Bogor, Muhammad Ridwan, datang ke kantor Website Pusinfo. Kedatangan Ridwan ini, bukan yang pertama kali karena beberapa kali sudah, pria ini berdiskusi di markas Website, bersama Kru KMP P2KP. Kali ini, Ridwan membawa informasi lapang seputar nuansa pendidikan anak yang tengah dibidani BKM-nya dalam SMP Islam Ar-Ridho.
Sebagaimana dituliskan dalam artikel Ridwan bertajuk The Indonesian Dream yang juga ditayangkan di Web ini, masyarakat Desa Tarikolot yang difasilitasi oleh BKM ‘Paguyuban Warga Desa Tarikolot’ bersama segenap pelaku pembangunan desa, mendirikan SMP Islam Ar-Ridho adalah SMP pada tanggal 4 Juni 2005. Pendirian SMP ini, sebagai suatu ikhtiar dari masyarakat dan BKM akan pendidikan menengah di Desa Tarikolot, akibat di desa ini, belum ada satupun Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Setelah disosialisasikan sekitar 1 bulan sejak pendiriannya, SMP Islam Ar-Ridho mampu menjaring sekitar 20 anak Drop Out (DO) SD nan miskin di Dusun Babagan, Desa Tarikolot. Ke-20 anak itu, masuk dalam satu kelas yakni kelas 7 SMP dengan jam sekolah siang (pukul 13.00 hingga 17.30 WIB), karena gedung yang dipakai, masih menumpang di Gedung MI Raudhatussalam.

Dalam pelaksanaannya, menurut Ridwan yang juga ikut mengajar mata pelajaran Fisika di SMP ini, muncul banyak hal yang menarik. ”Sangat berbeda sekali antara mengajar anak-anak sekolah umumnya, dengan mengajar 20 siswa ini. Yang paling saya rasakan adalah nuansa atau sifat-sifat jalanan dari mereka masih terasa,” ujarnya.
Menurut Ridwan, sifat-sifat jalanan mereka, seperti terbiasa berceletuk keras dan cenderung kotor ala jalanan yang masih terasa ada itu, baginya bisa dimaklumi. ”Ya, saya bisa maklum karena telah sekian lama mereka lepas dari bangku sekolah dan berinteraksi di jalanan, sehingga wajar bila itu yang muncul,” paparnya.
Bagi kondisi demikian, ungkap Ridwan, dalam menjadi guru, jelas harus menerapkan perlakuan yang berbeda, misalnya menghindari bersikap keras dan memarahi yang berlebihan kepada mereka, karena dipastikan unsur resistensi mereka yang akan keluar, bahkan yang ditakutkan adalah melawan atau kabur. ”Maka, dalam berbicara, kami sangat berhati-hati kepada mereka, karena, anak-anak semacam ini biasanya sangat peka, justru bila diperlakukan keras dan kasar,” urainya.
 
Di akhir diskusi, Ridwan menuturkan, bahwa SMP Islam Ar-Ridho ini dibangun atas keadaan responsif atas nasib anak-anak miskin yang DO SD. ”Bisa dikatakan, kami bangun SMP ini dengan modal nekat dan kondisi darurat atas keprihatinan kami melihat masa depan pendidikan mereka, sehingga, masalah jangan tanya masalah fasilitas dan dukungan belajar mengajar, bahkan untuk guru pun, kami hanya punya 3 meja yang kami pergunakan untuk duduk secara bergantian, termasuk kondisi anak didik, masih sangat membutuhkan bantuan buku-buku dan perlengkapan sekolah lainnya” ujarnya mengakhiri.

The Indonesian Dream

“I have a dream, a dream of the time when the evil of prejudice and segregation will vanish. It is a dream deeply rooted in the American dream, a dream that my four little children will one day live in a nation, where they will not be judged by the color of their skin, but by the content of their character.” (Dr. Martin Luther King, Jr)

Itulah salah satu pidato yang terkenal dari seorang pejuang Hak Asasi Manusia Amerika Serikat, pada suatu rapat raksasa kaum Afro Amerika pada tanggal 28 Agustus 1963 di Lincoln Memorial, Washington DC. Amerika pernah mempunyai sejarah hitam tentang diskriminasi ras, yang menyebabkan tertindasnya kaum Afro Amerika di berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan, dimana warga minoritas tersebut tidak boleh sekolah di lingkungan kaum mayoritas.

Impian seorang Dr. Martin Luther King, Jr adalah dihapuskannya segala bentuk diskriminasi terhadap warga Afro Amerika dan meningkatkan kesejahteraannya. Hal tersebut dinamakan dengan ‘American Dream’. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apa impian Bangsa Indonesia? Jawabannya, mungkin sudah tereka 60 tahun silam, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945, dengan diproklamasikannya kemerdekaan Bangsa Indonesia dari cengkraman penjajah.

Lalu, apakah di usia 60 tahun ini, Bangsa Indonesia sudah mencapai impian yang sesungguhnya? Semua pasti sepakat manjawab: ‘Belum!’ Belum tercapainya impian Indonesia bisa kita analogikan dengan lingkungan sekitar kita yang bisa kita lihat sehari-hari, yang secara sederhana, dapat penulis lihat dari seorang sosok Supriyadi, siswa kelas 7 (kelas 1) SMP Islam Ar-Ridho, Desa Tarikolot, Kabupaten Bogor. Penulis kebetulan mengajar di SMP tersebut.

Pada hari pertama siswa baru tersebut sekolah, pada saat absen, dia tidak masuk. Lalu ditanya, kenapa Supriyadi tidak masuk? Teman-temannya menjawab, ”Dia belum punya seragam dan buku Pak! Malu katanya,” ujar teman-temannya kompak. Demi mendengar jawaban tersebut, bagi saya selaku seorang guru sukarelawan di SMP baru tersebut, membuat konsentrasi mengajar pun tidak penuh.

Berikutnya, di kegiatan Pramuka pada saat Masa Orientasi Siswa (MOS), Supriyadi juga tidak hadir karena tidak punya seragam Pramuka. Akhirnya, setelah dibujuk untuk masuk kembali, akhirnya Supriyadi bersedia masuk pada hari ke tiga, walaupun seragamnya tidak seperti yang lain. Supriyadi memakai baju putih SD dengan celana panjang warna hitam.

SMP Islam Ar-Ridho adalah SMP yang baru saja didirikan oleh masyarakat dan BKM ‘Paguyuban Warga Desa Tarikolot’ pada tanggal 4 Juni 2005, sebagai suatu ikhtiar dari masyarakat dan BKM akan pendidikan menengah di Desa Tarikolot, akibat di desa ini, belum ada satupun Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Melalui beberapa kali Rembug Warga Desa (RWD) yang melibatkan Pemerintahan Desa, LPM, BPD dan Tokoh Masyarakat yang difasilitasi BKM, akhirnya, SMP Islam Ar-Ridho disosialisasikan pada saat peresmian gedung baru Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Raudhatussalam. Di samping itu, SMP ini juga merupakan hasil dari program channeling BKM dengan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dalam program ’block grant’ rehabilitasi gedung MI.

Rata-rata, siswa SMP Islam Ar-Ridho adalah murid dari kalangan yang tidak mampu, bahkan ada siswa yang seharusnya duduk di kelas 1 SMA, baru tahun ini bisa menikmati bangku sekolah. Totong, biasa dipanggil, dalam satu kelas, perawakannya paling tinggi dan besar, walaupun kulitnya hitam, giginya bersih kalau tersenyum.

Totong sudah lama ingin sekolah. Namun, karena ketidakberdayaan orang tuanya menyekolahkan Totong, terpaksa dia tidak sekolah selama tiga tahun ini dan membantu orang tuanya berjualan gorengan. Keberadaan SMP Islam Ar-Ridho yang terletak di dekat rumahnya, membuat Totong kembali bersemangat untuk ke sekolah, walaupun terlambat tiga tahun.

Lalu, bagaimana dengan masalah biaya bagi para siswa ini untuk belajar di SMP Islam Ar-Ridho? Para siswa hanya diwajibkan mendaftar uang pendaftaran sebesar Rp. 10.000,-, dan untuk pembiayaan lain, pihak sekolah memberikan keringanan. SMP Islam ini memang didirikan atas dasar membantu siswa dari keluarga yang tidak mampu, tapi tidak menjatuhkan harga diri (kualitas) siswa dan kredibilitas sekolah. Konsepnya lebih pada bagaimana BKM dan masyarakat, bisa membantu anak-anak Desa Tarikolot yang tidak mampu agar bisa terus bersekolah.

Walaupun jumlah murid SMP Islam Ar-Ridho hanya 20 orang, tapi semuanya berasal dari keluarga yang tidak mampu. Tim pengajar di SMP Islam ini, terdiri dari 3 anggota BKM, 7 orang guru yang peduli serta 2 orang sarjana yang direkrut BKM menjadi sukarelawan. SMP Islam Ar-Ridho ini, dipimpin oleh Drs. Riyadi Alwi, yang merupakan anggota BKM. Gedung yang dipakai pun masih menumpang di Gedung MI Raudhatussalam, sehingga, SMP Islam Ar-Ridho, merupakan sekolah siang.

Apa yang dilakukan BKM ‘Paguyuban Warga Desa Tarikolot’ dan masyarakat tentang hal ini, hanya sebuah ikhtiar kecil demi mewujudkan impian dari beberapa keluarga yang ingin agar anaknya tetap sekolah. Modal utama pendirian SMP ini adalah idealisme dan tanggung jawab moral masyarakat dan BKM akan pentingnya perkembangan pendidikan di Desa Tarikolot.
Hal ini juga merupakan jawaban dari kegundahan beberapa tokoh masyarakat dan anggota BKM, bahwa masih ada diskriminasi dan ketidakberdayaan bagi keluarga yang tak mampu untuk menyekolahkan anaknya, seperti yang menimpa Supriyadi dan Totong di atas. Mereka hanya dua anak tunas bangsa yang berusaha menemukan ‘Impian Indonesianya’ di masa depan, minimal, menjadi generasi yang berguna bagi desanya, suatu saat nanti.

Sumber: www.p2kp.org

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More