BEBERAPA waktu lalu, Sekretaris BKM Tarikolot, Bogor, Muhammad Ridwan, datang ke kantor Website Pusinfo. Kedatangan Ridwan ini, bukan yang pertama kali karena beberapa kali sudah, pria ini berdiskusi di markas Website, bersama Kru KMP P2KP. Kali ini, Ridwan membawa informasi lapang seputar nuansa pendidikan anak yang tengah dibidani BKM-nya dalam SMP Islam Ar-Ridho.
Sebagaimana dituliskan dalam artikel Ridwan bertajuk The Indonesian Dream yang juga ditayangkan di Web ini, masyarakat Desa Tarikolot yang difasilitasi oleh BKM ‘Paguyuban Warga Desa Tarikolot’ bersama segenap pelaku pembangunan desa, mendirikan SMP Islam Ar-Ridho adalah SMP pada tanggal 4 Juni 2005. Pendirian SMP ini, sebagai suatu ikhtiar dari masyarakat dan BKM akan pendidikan menengah di Desa Tarikolot, akibat di desa ini, belum ada satupun Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Setelah disosialisasikan sekitar 1 bulan sejak pendiriannya, SMP Islam Ar-Ridho mampu menjaring sekitar 20 anak Drop Out (DO) SD nan miskin di Dusun Babagan, Desa Tarikolot. Ke-20 anak itu, masuk dalam satu kelas yakni kelas 7 SMP dengan jam sekolah siang (pukul 13.00 hingga 17.30 WIB), karena gedung yang dipakai, masih menumpang di Gedung MI Raudhatussalam.
Dalam pelaksanaannya, menurut Ridwan yang juga ikut mengajar mata pelajaran Fisika di SMP ini, muncul banyak hal yang menarik. ”Sangat berbeda sekali antara mengajar anak-anak sekolah umumnya, dengan mengajar 20 siswa ini. Yang paling saya rasakan adalah nuansa atau sifat-sifat jalanan dari mereka masih terasa,” ujarnya.
Menurut Ridwan, sifat-sifat jalanan mereka, seperti terbiasa berceletuk keras dan cenderung kotor ala jalanan yang masih terasa ada itu, baginya bisa dimaklumi. ”Ya, saya bisa maklum karena telah sekian lama mereka lepas dari bangku sekolah dan berinteraksi di jalanan, sehingga wajar bila itu yang muncul,” paparnya.
Bagi kondisi demikian, ungkap Ridwan, dalam menjadi guru, jelas harus menerapkan perlakuan yang berbeda, misalnya menghindari bersikap keras dan memarahi yang berlebihan kepada mereka, karena dipastikan unsur resistensi mereka yang akan keluar, bahkan yang ditakutkan adalah melawan atau kabur. ”Maka, dalam berbicara, kami sangat berhati-hati kepada mereka, karena, anak-anak semacam ini biasanya sangat peka, justru bila diperlakukan keras dan kasar,” urainya.
Di akhir diskusi, Ridwan menuturkan, bahwa SMP Islam Ar-Ridho ini dibangun atas keadaan responsif atas nasib anak-anak miskin yang DO SD. ”Bisa dikatakan, kami bangun SMP ini dengan modal nekat dan kondisi darurat atas keprihatinan kami melihat masa depan pendidikan mereka, sehingga, masalah jangan tanya masalah fasilitas dan dukungan belajar mengajar, bahkan untuk guru pun, kami hanya punya 3 meja yang kami pergunakan untuk duduk secara bergantian, termasuk kondisi anak didik, masih sangat membutuhkan bantuan buku-buku dan perlengkapan sekolah lainnya” ujarnya mengakhiri.







